Transisi Energi Berkelanjutan, Bappenas dan WRI Indonesia Pastikan Integrasi Dekarbonisasi Industri Nikel

JAKARTA — Sebagai bagian upaya nyata mendukung transisi energi berkelanjutan dan pembangunan rendah karbon di Indonesia, Kementerian PPN/Bappenas bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia meluncurkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional, Kamis (12/6). “Peta jalan ini menargetkan pengurangan emisi industri nikel hingga 81 persen pada 2045, selaras dengan komitmen Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions sebelum 2060,” ungkap Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. T. Sambodo.

Indonesia, sebagai produsen 60 persen nikel dunia, memiliki potensi besar dalam mendorong hilirisasi nikel yang rendah emisi dan berdaya saing tinggi. Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional ini dirancang untuk menjadi masukan strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan sejalan dengan target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Sejak awal 2024, penyusunan peta jalan telah melibatkan kolaborasi multipihak, mencakup lebih dari 30 perusahaan tambang dan smelter nikel di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara, 15 K/L, serta akademisi.

Deputi Teguh menjelaskan empat strategi utama dalam peta jalan ini, yaitu (1) efisiensi energi dan material; (2) penggantian bahan bakar; (3) substitusi material; dan (4) penggunaan listrik rendah karbon. Strategi penggunaan listrik rendah karbon menjadi prioritas, mengingat sumber emisi terbesar di industri nikel berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap captive. Dengan memanfaatkan potensi energi baru dan terbarukan di wilayah penghasil dan pengolahan nikel, industri dapat memanfaatkan bauran energi yang bersumber dari surya, angin, air, biomassa, dan hidrogen hijau untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.

“Dekarbonisasi Industri nikel adalah langkah awal dalam proses transformasi tata kelola untuk memanfaatkan potensi Indonesia sebagai produsen 60 persen nikel di dunia, sehingga Indonesia dapat menjadi pemimpin global dalam menghasilkan nikel yang rendah emisi dan bertanggungjawab,” jelas Senior Climate Manager WRI Indonesia Egi Suarga.

Analisis WRI Indonesia menunjukkan jika tidak dilakukan intervensi, emisi industri nikel dapat meningkat hingga 86 persen pada 2045. Untuk itu, Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional juga merekomendasikan pembangunan 47,3GW pembangkit listrik energi baru dan terbarukan, termasuk penambahan 5,1GW pembangkit berbasis hidrogen hijau di Maluku Utara yang memiliki keterbatasan energi baru dan terbarukan, serta penguatan infrastruktur gas alam cair dan biomassa. Rekomendasi tambahan mencakup kebijakan harga energi rendah karbon yang kompetitif dan pembentukan standar nikel hijau Indonesia untuk mengatur penggunaan energi bersih dan emisi gas rumah kaca dalam proses produksi.