Bappenas Perkuat Hilirisasi Kelapa melalui Kawasan Industri Terpadu

Kementerian PPN/Bappenas mendorong pengembangan kawasan industri kelapa terpadu di sentra produksi untuk mempercepat hilirisasi, menekan biaya logistik, dan memastikan nilai tambah komoditas kelapa lebih banyak dinikmati daerah penghasil. Upaya ini menjadi bagian dari Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 yang disusun sebagai acuan transformasi industri kelapa nasional dari hulu hingga hilir.

Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi Kelapa Kementerian PPN/Bappenas Sukmo Harsono menegaskan bahwa pengembangan kawasan industri kelapa terpadu menjadi strategi kunci untuk mempercepat hilirisasi dan memperkuat daya saing industri kelapa nasional. Melalui pendekatan tersebut, setiap bagian kelapa, mulai dari daging, air, serabut, hingga tempurung, dapat diolah menjadi produk bernilai tambah di sentra produksinya.

Menurut Sukmo, potensi ekonomi produk turunan kelapa masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Tempurung, serabut, maupun air kelapa kerap belum diolah secara optimal, sementara industri pengolahannya sering berada jauh dari lokasi produksi sehingga menyebabkan biaya logistik yang tinggi.

“Selama ini banyak bahan baku tersedia di sentra produksi, tetapi pabrik pengolahannya berada di tempat yang berbeda. Akibatnya biaya pengangkutan menjadi mahal dan memengaruhi harga produk akhir. Karena itu, yang harus dilakukan bukan membawa bahan bakunya ke industri, tetapi mendekatkan industri ke sumber produksi,” ujar Sukmo pada Podcast Bappenas “Mengembalikan Kejayaan Kelapa Nusantara: Menciptakan Nilai Tambah dari Hilir” pada 26 Juni 2026.

Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 mendorong penerapan prinsip zero waste melalui pengolahan terpadu seluruh bagian kelapa. Tempurung dapat diolah menjadi briket arang, serabut menjadi coco fiber dan coco peat, sedangkan air kelapa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan maupun industri.

Sukmo menjelaskan bahwa Satgas Percepatan Hilirisasi Kelapa tengah mendorong pengembangan kawasan industri kelapa strategis di sejumlah wilayah sentra produksi. Kawasan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas pengolahan dalam satu ekosistem industri yang saling terhubung.

“Harapan kami adalah menghadirkan kawasan industri kelapa terpadu yang menghubungkan pengolahan daging kelapa, santan, nata de coco, serabut, hingga tempurung dalam satu kawasan. Dengan demikian biaya produksi dapat ditekan, limbah dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan nilai tambah yang diperoleh daerah menjadi jauh lebih besar,” jelasnya.

Selain itu, Kementerian PPN/Bappenas juga mendorong pemetaan karakteristik varietas kelapa di berbagai daerah guna mendukung investasi yang lebih tepat sasaran. Pemetaan ini membantu mengarahkan investor ke wilayah dengan karakteristik bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Kalau semua pihak memiliki acuan yang sama melalui peta jalan hilirisasi, maka investasi, replanting, penguatan petani, dan pengembangan industri dapat berjalan secara terintegrasi. Pada akhirnya, yang ingin kita capai adalah peningkatan kesejahteraan petani dan penguatan posisi Indonesia dalam industri kelapa global,” pungkas Sukmo.