Bappenas Tekankan Peremajaan Kelapa sebagai Fondasi Hilirisasi Nasional

Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi Kelapa Kementerian PPN/Bappenas Sukmo Harsono menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi kelapa nasional harus dimulai dari pembenahan sektor hulu. Percepatan peremajaan tanaman tua dan penyediaan benih unggul bersertifikat menjadi langkah penting agar Indonesia dapat memanfaatkan meningkatnya permintaan pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Ketika permintaan kelapa dunia meningkat sangat tinggi, kita justru dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagian besar perkebunan kelapa kita sudah tua, banyak yang rusak akibat abrasi, dan minat masyarakat untuk menanam kembali masih rendah. Karena itu, hilirisasi tidak bisa hanya berbicara tentang industri pengolahan, tetapi harus dimulai dari pembenahan perkebunan kelapa sebagai fondasi utama,” ujar Sukmo di Podcast Bappenas “Mengembalikan Kejayaan Kelapa Nusantara: Membangun Fondasi dari Hulu,” pada 26 Juni 2026.

Tercatat, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar dunia dengan sekitar 5,3 juta petani yang menggantungkan hidup pada komoditas tersebut. Namun, sebagian besar perkebunan kelapa masih dikelola secara tradisional oleh rakyat, sementara produktivitas terus menghadapi tekanan akibat usia tanaman yang semakin tua dan berkurangnya luas lahan produktif. Di sisi lain penguatan hilirisasi juga membuka peluang pengembangan produk turunan bernilai tambah, seperti minyak kelapa, air kelapa, kelapa parut kering, santan, hingga bahan baku industri pangan dan nonpangan.

Sukmo menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam program peremajaan kelapa adalah keterbatasan benih unggul bersertifikat. Selama ini, penyediaan sumber benih belum menjadi perhatian utama sehingga ketersediaannya tidak sebanding dengan kebutuhan replanting dalam skala besar.

“Kalau replanting dilakukan tanpa menggunakan bibit unggulan yang jelas varietas dan asal-usulnya, maka lima sampai enam tahun ke depan hasil panennya tidak akan sesuai harapan. Kita tidak boleh hanya mengejar jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga harus memastikan kualitas bibitnya. Kalau ini tidak dilakukan dengan benar, kita berisiko kehilangan daya saing dan bahkan menjadi negara pengimpor kelapa,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas melalui Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025–2045 mendorong penguatan tata kelola sektor kelapa dari hulu hingga hilir. Peta jalan ini menjadi pedoman bersama bagi kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan petani, serta diharapkan menjadi acuan dalam mempercepat peremajaan perkebunan, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Dengan tanaman yang lebih produktif dan akses yang lebih baik terhadap rantai nilai hilir, petani diharapkan memperoleh pendapatan yang lebih stabil dan nilai jual yang lebih tinggi. “Harapan kami sederhana, semua pihak bergerak menuju tujuan yang sama. Jika peremajaan berjalan baik, petani semakin sejahtera, dan hilirisasi berkembang sesuai arah yang telah direncanakan, maka industri kelapa Indonesia akan kembali menjadi kekuatan utama di tingkat global,” tutup Sukmo.