Pesan dan Praktik Baik Pelestarian Alam dari Mama Bamboo di Women’s Pavilion Expo 2025 Osaka
Siaran Pers - Sabtu, 03 Mei 2025
Osaka, Kansai, Jepang, 3 Mei 2025 — Dua perempuan dari Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Negekeo, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal dengan Mama Bamboo tampil mewakili Indonesia menjadi pembicara di Women’s Paviliun World Expo 2025 Osaka yang bertajuk “Empowered Woman and Bamboo: The Indonesia New Normal”, Jumat (2/5), pukul 11:30 waktu setempat. Mama Paula Thresia dan Mama Florentina Ceme Owa hadir memperkenalkan peran perempuan dalam merawat alam, menjaga keberlanjutan bumi, dan menghasilkan nilai tambah melalui bambu.
Mama Paula menjelaskan inisiatif pelestarian bambu ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Nusa Tenggara Timur. “Bambu adalah budaya dan bagian penting dari kehidupan sehari-hari perempuan di Desa Mokel Morid. Bambu sangat erat kaitannya dengan budaya, mulai dari lahir hingga meninggal dunia, semua berkaitan dengan bambu. Untuk itu, kami ingin melestarikan bambu agar tidak hilang, melalui pembibitan dan penanaman bambu,” ujar Mama Paula.
Mama Bamboo aktif dalam pembibitan dan penanaman bambu, terutama di sekitar sumber mata air dan lahan-lahan kritis. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus mendukung ekonomi lokal. Mama Bamboo telah berhasil memproduksi teh bambu, biochar, asap cair, irigasi tetes, arang, anyaman bambu dan kerajinan bambu lainnya. “Perempuan desa dapat menjadi motor perubahan ketika mereka bersatu dan percaya dengan kekuatan mereka. Terkadang peran perempuan dilupakan, khususnya di desa. Melalui kelompok Delima, Desa Wolowea, kami mulai menyadari bagaimana bambu dan budaya harus terus tumbuh,” ujar Mama Florentina.
Ketua Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) Monica Tanuhandaru sebagai moderator acara ini juga menjelaskan selain pelestarian bambu, kelompok Mama Bamboo juga mengelola kawasan hutan yang telah mendapat izin kelola sejak 2022. “Dalam memperluas kawasan hutan, dengan berbagai kegiatan penanaman pohon keterlibatan perempuan selalu ada hingga kini, mereka telah menanam lebih dari seribu batang bambu dan menargetkan dampak yang lebih besar pada 2025,” jelas Monica.
Inisiatif ini lantas mendapat dukungan berbagai pihak termasuk Environmental Family Foundation dan Cartier Osaka. Kolaborasi ini memperkuat pesan bahwa perlindungan alam bukan sekadar proyek sementara, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari perempuan di komunitas Mama Bamboo. Melindungi bumi bukan proyek bagi para perempuan Nusa Tenggara Timur, itu adalah hidup sehari-hari mereka. Untuk itu, perempuan harus keluar dari diskriminasi dan menjadi pemimpin atas dirinya sendiri.
Kehadiran Mama Bamboo di World Expo 2025 Osaka merupakan bagian dari upaya Kementerian PPN/Bappenas menghadirkan praktik baik pelestarian lingkungan dari daerah ke panggung internasional. Ini menjadi bukti nyata pembangunan berkelanjutan dapat berjalan berdampingan dengan pelibatan peran perempuan. “Perempuan memegang peranan penting dalam pelestarian alam, produksi dan pengelolaan pangan, dari ladang hingga meja makan. Untuk itu, tidak tepat jika ada upaya yang melepaskan peran perempuan dalam pengelolaan alam dan pangan,” pungkas Koordinator Kabupaten Manggarai Timur YBLL Maria Wuda.
Di Women’s Paviliun World Expo 2025 Osaka juga dipamerkan dua sepeda bambu Spedagi tipe GoRo dan Rodacilik 02 karya Singgih S Kartono. Sebagai rangkaian kegiatan, Mama Bamboo terjadwal akan menggelar talkshow dan workshop pembuatan teh bambu, Sabtu (3/5) hari ini, pukul 12.50 waktu setempat di Paviliun Indonesia.