Bappenas-WEF Luncurkan Indonesia Jobs and Skills Accelerator, Dukung Transisi Hijau Wujudkan Lapangan Kerja
Berita Utama - Kamis, 09 Oktober 2025
Kementerian PPN/Bappenas bersama World Economic Forum (WEF) berkomitmen memperkuat daya saing nasional melalui pembangunan sumber daya manusia yang adaptif, kompetitif, dan inklusif, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029 dan Visi Indonesia Emas 2045. Transformasi global yang meliputi transisi hijau, kemajuan teknologi, perubahan demografi, dan ketidakpastian ekonomi diproyeksikan mengubah struktur pasar tenaga kerja dunia secara signifikan. Menurut Future of Jobs Report 2025 (World Economic Forum), pada periode 2025–2030, sekitar 22 persen dari total pekerjaan saat ini akan terdampak. Di Indonesia, transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan membuka peluang besar penciptaan lapangan kerja baru, misalnya di sektor energi terbarukan yang berpotensi menyerap hingga 1,3 juta tenaga kerja pada 2050.
"Transisi hijau adalah peluang, bukan ancaman. Bagi Indonesia, transisi hijau bukan hanya soal menekan emisi, tapi juga tentang membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Yang penting, transisi ini harus berjalan adil, tidak boleh ada yang tertinggal, dan harus inklusif," tegas Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard dalam Peluncuran Indonesia Jobs and Skills Accelerator di Jakarta, Kamis (9/10). Kegiatan yang turut dihadiri Ketua Umum KADIN Indonesia dan Presiden Direktur Bakrie & Brothers Anindya Bakrie ini bertujuan mempercepat transisi menuju ekonomi hijau dengan mendorong penciptaan lapangan kerja ramah iklim dan pengembangan keterampilan, meningkatkan inklusi sosial serta kualitas pekerjaan, dan mengantisipasi risiko sosial melalui peran kolaboratif sektor publik dan swasta.
Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani menguraikan, Indonesia Jobs and Skills Accelerator adalah collective movement yang bertujuan memperkuat daya saing nasional melalui pengembangan talenta di sektor-sektor strategis. Program ini mengarusutamakan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dalam pasar kerja, mendorong dialog lintas pemangku kepentingan, menyusun analisis kebutuhan dan kebijakan tenaga kerja hijau, serta membentuk kelompok kerja tematik untuk merespons dampak transisi hijau terhadap tenaga kerja.
Transformasi menuju ekonomi hijau memastikan penguatan kapasitas sumber daya manusia dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan pembangunan berketahanan iklim. Tantangan ketimpangan gender, keterbatasan akses penyandang disabilitas, serta kesenjangan sosial di pasar tenaga kerja juga menjadi fokus utama yang harus diatasi, sehingga dibutuhkan upaya kolaboratif untuk menghubungkan kebutuhan industri dengan ketersediaan keterampilan kerja dan memperkuat ekosistem thinking dalam pembangunan ketenagakerjaan. "Kolaborasi adalah kunci keberhasilan. Tidak ada satu pihak pun yang bisa menjalankan agenda sebesar ini sendirian. Indonesia Jobs and Skills Accelerator akan menjadi wadah bagi semua kolaborasi itu, menjembatani kebijakan pemerintah, kebutuhan industri, dan aspirasi para pekerja. Inilah langkah konkret menuju ekonomi hijau yang berkeadilan, produktif, dan berkelanjutan,” pungkas Wamen Febrian.