Bappenas-Unpad Dukung Swasembada Pangan melalui Komoditas Ubi Jalar

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy didampingi Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita dan perwakilan FAO untuk Indonesia Rajendra Aryal meresmikan gedung PRAISE Sweet Potato Center (Pusat Ubi Jalar) di Kampus Unpad, Jatinangor, pada Selasa (13/1).

Menteri Rachmat Pambudy menegaskan bahwa ubi jalar bukan sekadar komoditas sampingan, melainkan simbol kebangkitan swasembada pangan nasional.  "Kita ingin ubi jalar ini bukan sekadar menjadi ubi biasa, tapi menjadi simbol kebangkitan pangan kita dan Ini adalah model kolaborasi dengan ide yang paling sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar," ujar Menteri Rachmat Pambudy.

Rektor Unpad Arief Kartasasmita, menyatakan kebanggaannya atas kepercayaan pemerintah menjadikan Unpad sebagai motor penggerak pengembangan ubi jalar. Ke depan, ditargetkan untuk berkembang dari level nasional menjadi International Sweet Potato Center. "Ini adalah bukti kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Kami ingin ilmu pengetahuan dari Unpad terkait ubi jalar ini menyebar ke level nasional hingga internasional," tutur Arief.

Senada dengan hal tersebut, FAO Representative Rajendra Aryal memuji langkah Indonesia dalam memanfaatkan biodiversitasnya yang luar biasa. Ia menyebut bahwa ubi jalar berperan penting dalam memperkuat ekonomi lokal dan lingkungan. "Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa dengan 77 jenis tanaman sumber karbohidrat. FAO siap bekerja sama untuk membawa inovasi dari pusat riset Unpad ini ke panggung global," ungkap Rajendra.

Pusat riset ini tidak hanya fokus pada budidaya konvensional, tetapi juga teknologi tanam modern, seperti pertanian urban. Melalui Universitas Padjadjaran, pusat riset ini diharapkan dapat berdampak nyata pada masyarakat luas  dan menjawab tantangan menuju ketahanan pangan nasional.

Sebelumnya, Menteri Rachmat Pambudy terpilih menjadi Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Padjadjaran dalam Pertemuan MWA Universitas Padjadjaran. "MWA dan Pimpinan Rektorat adalah sekeping mata uang dengan sisi yang berbeda, namun harus berjalan beriringan," ujarnya.

Universitas Padjadjaran diharapkan tidak berhenti pada pencapaian yang sudah ada, tetapi terus memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui inovasi kesehatan, pangan dan lainnya. Langkah ini merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemerintah melalui program akademik.

Dalam agenda yang membahas Program Unggulan Sweet Potato Centre dan Gene Sequencing ini, Universitas Padjadjaran menyampaikan target pada 2029 untuk bisa menembus peringkat Top 300 Dunia dengan pendapatan mencapai Rp 3 Triliun per tahun. Saat ini, Universitas Padjadjaran telah menunjukkan performa positif dengan menempati peringkat 96 di Asia dan peringkat 515 global dengan realisasi pendapatan hingga Rp 2 triliun di 2025.