Bappenas Tegaskan Peran Strategis Duta Besar RI Dorong Kerja Sama Internasional dan Wujudkan Indonesia Emas 2045
Berita Utama - Kamis, 31 Juli 2025
Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menekankan pentingnya peran perwakilan RI di luar negeri dalam mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan Visi
Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan dalam pembekalan bagi 24 Calon Duta
Besar RI, Kamis (31/7). “Bapak dan Ibu Duta Besar bukan hanya representasi Indonesia di luar negeri, tapi juga ujung tombak diplomasi ekonomi dan pembangunan. Tugas memperkuat konektivitas global Indonesia harus sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045, untuk mendorong kerja sama internasional yang sejalan dengan agenda transformasi ekonomi nasional,” ungkap Wamen Febrian.
Dalam paparannya, Wamen Febrian menegaskan RPJMN 2025–2029 merupakan tahap awal dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Dokumen ini menjadi pedoman utama penyusunan program dan anggaran pembangunan, serta menjadi rujukan bagi kementerian/ lembaga/daerah, dan mitra internasional. Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan lima capaian: pendapatan per kapita setara negara maju, kemiskinan ekstrem turun, SDM unggul, pengaruh global meningkat, dan tercapainya net zero emission.
Dalam RPJMN 2025-2029, terdapat sejumlah Prioritas Nasional (PN) yang sangat relevan dengan mandat perwakilan RI, antara lain PN 2: Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan Berkualitas, PN 4: Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan, PN 7: Stabilitas Polhukhankam dan Pelayanan Publik, serta PN 8: Transformasi Layanan Publik. Dubes diharapkan aktif menjajaki peluang kerja sama pembiayaan pembangunan, diplomasi ekonomi dan kerja sama internasional, perlindungan WNI dan penguatan diaspora, serta memajukan kepemimpinan Indonesia di forum global.
Kegiatan ini momentum memperkuat sinergi kebijakan nasional dan kerja diplomasi luar negeri, sebagai bagian strategi besar menuju 100 tahun Indonesia Merdeka.
“Untuk mencapai visi ini, kita tidak bisa lagi menjalankan pola business as usual. Yang kita butuhkan adalah transformasi menyeluruh dan konkret, menyentuh langsung akar persoalan, dan kerja bersama untuk mewujudkannya” pungkas Wamen Febrian.