Bappenas Susun Peta Jalan Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa sebagai Game Changer Menuju Indonesia Emas 2045

Kementerian PPN/Bappenas tengah menyusun Peta Jalan Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa sebagai kerangka kebijakan strategis guna memperkuat nilai, etika, dan mentalitas masyarakat, yang menjadi fondasi penting dalam pembangunan nasional. Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali menegaskan pembangunan karakter merupakan elemen kunci yang tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.

“Kemajuan suatu bangsa itu tidak semata ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, produktivitas, industrialisasi, maupun pembangunan infrastruktur. Terdapat aspek lain yang tak kalah penting, yaitu nilai, etika, dan mentalitas masyarakat,” urai Deputi Pungkas dalam Kickoff Penyusunan Peta Jalan Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (7/4).

Forum ini menjadi tahap awal untuk menjaring masukan dari berbagai kementerian/lembaga. Ke depan, dokumen peta jalan akan dilengkapi dengan indikator dan target yang terukur agar pelaksanaannya dapat dimonitor secara berkelanjutan.

“Penguatan karakter dan jati diri bangsa telah ditetapkan sebagai salah satu dari 20 upaya transformatif (game changers) dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 yang telah disahkan melalui Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024. Hal ini menunjukkan pembangunan manusia dan masyarakat berbasis nilai menjadi prioritas dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” imbuh Deputi Pungkas.

Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas Didik Darmanto mengungkapkan implementasi peta jalan penguatan karakter akan dilakukan melalui pendekatan ekosistem yang melibatkan berbagai saluran strategis, mulai dari keluarga sebagai fondasi utama, lembaga pendidikan, institusi keagamaan, masyarakat, media, hingga organisasi kemasyarakatan. Pendekatan ini diharapkan mampu mentransformasikan nilai dan etika secara berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat.

“Berbagai program penguatan karakter telah dilaksanakan oleh kementerian/lembaga. Namun, persoalannya bukan karena ketiadaan program dan kegiatan, tapi karena belum terwujudnya kerangka besar yang mampu menghubungkan dan menyinergikan seluruh program tersebut agar lebih implementatif, berdampak, dan mampu mentransformasi masyarakat,” ujar Direktur Didik.

Proses penyusunan peta jalan ini diperkaya dengan berbagai masukan saat gelar wicara antara para narasumber ahli dan masyarakat. Narasumber yang hadir dalam diskusi tersebut adalah Direktur Didik Darmanto, Antropolog Amich Alhumami, Jurnalis Senior Budiman Tanuredjo, Ahli Psikologi Pendidikan Najelaa Shihab, serta Sosiolog/Novelis Okky Madasari. Diskusi ini diharapkan dapat memperjelas arah kebijakan strategis selanjutnya.