Bappenas Dukung Penguatan Sistem Pangan Indonesia melalui Pusat Riset dan Inovasi Ubi Jalar
Berita Utama - Selasa, 09 September 2025
SUMEDANG – Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyampaikan pengembangan ubi jalar merupakan langkah strategis yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, khususnya pada kegiatan prioritas pengembangan pangan lokal dan nabati. “Ubi jalar memiliki potensi nilai tambah yang tinggi sehingga layak didorong sebagai komoditas unggulan, tidak hanya untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga dalam memperkuat transformasi sistem pangan nasional,” jelas Menteri Rachmat Pambudy dalam peresmian Padjadjaran Center of Sweet Potato Research and Innovation Excellence (PRAISE) di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Selasa (9/9). Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal, serta jajaran pimpinan dan civitas academica Universitas Padjadjaran.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi pangan masyarakat Indonesia masih didominasi padi-padian. Pada 2024, konsumsi ubi jalar hanya 3,1 kg/kapita/tahun, jauh di bawah konsumsi beras yang mencapai 92,1 kg/kapita/tahun. Padahal, ubi jalar kaya serat, karbohidrat kompleks, dan memiliki indeks glikemik rendah yang baik bagi kesehatan. Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi ubi jalar nasional pada 2024 hanya sebesar 1,38 juta ton dan cenderung menurun, sehingga perlu penguatan dari sisi produksi hingga konsumsi.
“Ubi jalar adalah salah satu sumber karbohidrat dengan potensi luar biasa. Langkah yang kita lakukan saat ini menjadi awal untuk membangun pusat ubi jalar nasional yang kelak dapat berkembang menjadi pusat ubi jalar internasional. Inilah revolusi pangan Indonesia, revolusi pertanian Indonesia, yang dapat memberi kontribusi bagi dunia. Sudah saatnya kita membangun peradaban baru melalui revolusi pangan yang lahir dari karya para ahli Indonesia, berbasis pada plasma nutfah asli Indonesia,” ungkap Menteri Rachmat Pambudy.
Menteri Rachmat Pambudy juga mengisi Kuliah Umum Universitas Padjadjaran Science Talk, “Sweet Potato: Science Bridging to Policy”, yang membahas peran strategis kebijakan diversifikasi pangan dalam mendukung kedaulatan nasional. “Ubi jalar tidak hanya berhenti sebagai plasma nutfah, tetapi dengan riset dan pengembangan oleh para peneliti kita, ia dapat menghadirkan nilai tambah yang besar. Pertanian berbasis ubi jalar ini dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memberikan kontribusi global, dan saya bersyukur dapat menjadi bagian dari upaya besar ini,” pungkas Menteri Rachmat Pambudy.