Bappenas–BRIN Dorong Penguatan Riset dan Investasi Peternakan, Wujudkan Kemandirian Pangan
Berita Utama - Jumat, 27 Maret 2026
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan pentingnya peran riset, inovasi, dan kolaborasi global dalam mendorong transformasi sektor peternakan nasional dalam Acara Livestock Investment Forum yang diselenggarakan oleh Badan Riset Nasional Indonesia (BRIN) di Jakarta, Jumat (27/3).
Forum ini menjadi ajang pertukaran pengetahuan antara pemangku kepentingan nasional dan internasional, termasuk mitra dari Eropa dan organisasi global seperti FAO, guna mendukung ketahanan pangan, khususnya pada komoditas daging dan susu.
Menteri Rachmat Pambudy menekankan bahwa peningkatan produktivitas peternakan harus dimulai dari penguatan fondasi hulu, terutama kualitas bibit dan ketersediaan pakan.
“Yang pertama-tama kita harus punya bibit yang bagus. Bibit adalah sumber daripada kemajuan peningkatan produksi dan produktivitas. Kita juga punya bahan baku pakan ternak yang luar biasa dari limbah perkebunan kita,” jelas Menteri Rachmat Pambudy.
Lebih lanjut, Menteri Rachmat Pambudy juga menyoroti besarnya kebutuhan domestik sebagai peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Pemerintah menargetkan peningkatan signifikan produksi susu nasional untuk mengurangi ketergantungan impor yang saat ini masih tinggi. Saat ini produksi susu di Indonesia hanya sekitar 21 persen, dan diharapkan dapat meningkat hingga mendekati 96 persen pada 2029.
Penguatan sektor peternakan ini sejalan dengan arahan Presiden untuk menjalankan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan ketahanan pangan dan keberhasilan program MBG melalui peningkatan ketersediaan protein hewani yang berkualitas. “Kami dari Kementerian PPN/Bappenas pasti akan mendukung BRIN, karena sumber daripada kemajuan adalah research and development, dan itu juga seperti arahan Bapak Presiden, kita harus bekerja berbasis ilmu penelitian terkini,” tambah Menteri Rachmat Pambudy.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa penguatan riset tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada aspek keberlanjutan. Inovasi dalam nutrisi dan pakan ternak terus dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi dampak lingkungan, termasuk emisi gas metana dari sektor peternakan
BRIN terus mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi, kementerian/lembaga, serta sektor swasta untuk menciptakan sistem peternakan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Melalui sinergi antara riset, investasi, dan kolaborasi global, pemerintah optimistis sektor peternakan nasional dapat berkembang lebih cepat, meningkatkan kemandirian pangan, serta memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.