Bappenas–Airbus Perkuat Kemitraan Strategis, Dorong Pengembangan Ekosistem Dirgantara Nasional
Berita Utama - Rabu, 25 Februari 2026
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy bersama Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley membahas penguatan kemitraan strategis, serta peluang pengembangan industri dirgantara nasional secara berkelanjutan di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu (25/2).
Menteri Rachmat Pambudy menekankan bahwa sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada konektivitas udara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, serta mobilitas masyarakat. Inovasi teknologi dan efisiensi operasional pesawat dinilai menjadi faktor penting dalam menjawab kebutuhan tersebut.
“Airbus bukan hanya mitra strategis bagi kami. Indonesia memiliki sejarah panjang dalam industri dirgantara, dan kami juga mengoperasikan Boeing maupun Airbus. Yang saya sukai dari Airbus adalah komitmennya untuk terus memperbarui pesawat setiap tahun. Itu sangat mengesankan,” ujar Menteri Rachmat Pambudy.
Terkait kebutuhan armada nasional, Airbus menyampaikan kesiapan untuk mempercepat proses pengiriman pesawat, yakni sekitar 24 bulan sejak penandatanganan kontrak. Airbus juga menawarkan opsi pesawat berbadan lebar untuk penerbangan ultra-jarak jauh yang mampu menghubungkan Indonesia secara langsung ke berbagai destinasi global seperti New York dan London, dengan kapasitas hingga 480 kursi tergantung konfigurasi.
Menteri Rachmat Pambudy juga menegaskan bahwa kerja sama tersebut harus melampaui aspek pengadaan pesawat semata. Penguatan ekosistem dirgantara nasional mencakup pengembangan sumber daya manusia, sistem perawatan dan pemeliharaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO), serta peningkatan kapasitas industri dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat pertumbuhan industri dirgantara kawasan.
Secara global, Airbus mengalokasikan sekitar 6 miliar dolar AS per tahun untuk desain dan ekspansi manufaktur. Di kawasan Asia, Airbus juga menginvestasikan sekitar 4 miliar dolar AS per tahun untuk pengembangan riset, taman industri, dan fasilitas produksi, dengan dukungan sekitar 10.000 karyawan dari 70 kewarganegaraan.
Airbus juga membuka peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat MRO untuk kawasan Asia-Pasifik, baik untuk kebutuhan komersial maupun pertahanan. Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi strategis Indonesia, serta mendorong transformasi sektor transportasi udara dan pengembangan industri dirgantara nasional yang berdaya saing global.