Bappenas–EDS16 World Bank Bahas Penguatan Hilirisasi Industri di IMF–WBG
Berita Pembangunan - Kamis, 16 April 2026
Kementerian PPN/Bappenas bersama Office of Executive Director for the Southeast Asia Voting Group (EDS16) World Bank Group menggelar side event “Navigating Through Global Volatilities: Job and Productivity-led Pathways to Strong and Sustainable Growth in Emerging Economies” pada rangkaian International Monetary Fund-World Bank Group Spring Meetings (IMF-WBG) di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 13–18 April 2026.
Forum ini menjadi wadah bagi Indonesia untuk menyuarakan pentingnya hilirisasi dan peningkatan produktivitas sebagai strategi negara berkembang dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik global.
“Pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia selama ini lebih banyak didorong oleh akumulasi modal (capital) dan tenaga kerja (labor) daripada oleh inovasi atau efisiensi teknologi,” ujar Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Eka Chandra Buana, Kamis (16/4).
Diskusi dalam side event tersebut menyoroti tantangan yang dihadapi negara berkembang untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil, akibat volatilitas global, mulai dari ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, pengetatan keuangan, hingga dampak perubahan iklim. Indonesia menyampaikan pentingnya transformasi struktural melalui peralihan dari ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah tinggi berbasis sumber daya alam, penguasaan teknologi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Dialog yang dihadiri para ahli dari World Bank Group, ADB, OECD, dan akademisi ini memberikan berbagai perspektif strategis, meliputi upaya menghadapi tantangan ketenagakerjaan global, pentingnya digitalisasi, penguatan hilirisasi, hingga penguatan peran diaspora untuk mendukung pendidikan. Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Ibnu Yahya menuturkan bahwa sektor usaha di Indonesia saat ini masih menghadapi kesenjangan terhadap akses pembiayaan dan penguasaan teknologi, terutama pada usaha berskala kecil yang tumbuh akibat hilangnya pekerjaan di sektor formal.
Kegiatan ini menghasilkan empat pesan utama bagi negara berkembang dalam menghadapi kondisi ketidakpastian global saat ini. Pertama, transformasi ke industri bernilai tambah tinggi. Kedua, menggunakan pendekatan pembangunan yang holistik. Ketiga, memperkuat kolaborasi dengan lembaga internasional, seperti Bank Dunia, OECD, dan ADB, untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan menentukan instrumen pembiayaan pembangunan. Terakhir, menciptakan ekosistem perencanaan pembangunan yang didukung lembaga think-tank dan peningkatan kualitas pendidikan terkait perencanaan pembangunan.
“Untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah diperlukan pendekatan yang holistik, di mana stabilitas makroekonomi harus berjalan selaras dengan kebijakan industri yang tepat sasaran, pengembangan keterampilan yang berkelanjutan, dan dinamika bisnis yang dinamis,” tutup Deputi Chandra.