Pencarian Informasi Berita Dokumen Perencanaan Dokumen Hukum Data Statistik Infografis


Hasil Pencarian covid


    Modal Sosial Jadi Kunci Pengendalian Covid-19

    Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengajak semua pihak tanpa terkecuali bekerja sama untuk bangkit dari pandemi Covid-19. “Kita menyadari penanganan dan pemulihan dampak pandemi Covid-19 ini sejatinya adalah kerja kolektif kita semua. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat luas semestinya bergandengan. Modal sosial di masyarakat menjadi kunci pengendalian Covid-19 ini,” ujar Menteri Suharso saat membuka Webinar Cetak Biru Pahlawan Baru: Dialog Nasional tentang Nilai-Nilai Bangsa untuk Bangkit dan Maju, Selasa (10/11).

    Menteri Suharso mencontohkan pentingnya peran modal sosial di negara Taiwan yang mampu mencegah meluasnya penularan Covid-19 tanpa pemberlakuan kebijakan lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penelitian di tujuh negara Eropa juga menunjukkan bahwa negara dengan modal sosial lebih tinggi satu standar deviasi, memiliki kasus kematian dan mobilitas lebih rendah hingga 17 persen sampai 32 persen.

    “Modal sosial merupakan nilai atau norma yang berkembang di masyarakat dan memfasilitasi tumbuhnya kepercayaan gotong royong di sana. Selama vaksin Covid-19 masih terus diupayakan, kerja sama masyarakat menjadi kunci penerapan intervensi nonfarmasi. Dalam situasi ketidakpastian yang tinggi, dalam masa pemulihan dampak Covid-19 saat ini, membangun kepercayaan, kesadaran dan gotong royong di masyarakat menjadi penting,” tegas Menteri Suharso.

    Saat ini, penduduk Indonesia berjumlah 269,6 juta jiwa. Sekitar 68,7 persennya di antaranya merupakan penduduk usia produktif, termasuk generasi Y atau milenial. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta perubahan global saat ini mengubah seorang citizen menjadi netizen. “Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mewariskan nilai-nilai bangsa yang hidup dan tumbuh selama ini. Nilai-nilai ini perlu diterapkan dan ditumbuhkan dalam keseharian kita agar menjadi perekat dan pelumas kehidupan berbangsa,” urai Menteri Suharso.

    Menteri Suharso juga menambahkan, Visi Indonesia 2045 yang juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) telah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Visi ini tentunya hanya dapat dicapai melalui empat pilar pembangunan Indonesia 2045, antara lain pembangunan manusia dan penguasaan Iptek, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintah.

    “Tentunya pencapaian TPB/SDGs sebagai komitmen global perlu pejuang-pejuang tangguh, handal, dan dapat berkolaborasi antara sesama pemangku kepentingan untuk melakukan berbagai percepatan pencapaian target-target pembangunan ke depan, sebagaimana Visi Indonesia 2045 yang kita cita-citakan,” pungkas Menteri Suharso. 

    Selengkapnya
    Tingkat Harapan Hidup dan Perasaan Bahagia Lansia Malah Meningkat Semasa Covid-19


    Pandemi Covid-19 dikhawatirkan tidak hanya mengganggu kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental lansia. Namun, survei pada sebagian besar penduduk dunia dan beberapa daerah di Indonesia menunjukkan kondisi kesehatan lansia tidak terkena dampak terlalu besar. Tingkat harapan hidup dan perasaan bahagia lansia malah meningkat semasa pandemi Covid-19. Lansia yang tinggal bersama anak dan cucunya pada masa pandemi cenderung memiliki tingkat harapan hidup lebih besar dibandingkan sebelum pandemi. Meski demikian, perlu riset lebih lanjut untuk membuat kebijakan penanganan krisis pandemi ke depannya.

     

    “Perubahan kesehatan mental lansia akibat Covid-19 tidak terlalu signifikan. Yang mengalami stres adalah penduduk usia muda, yaitu 18–34 tahun, di mana pengaruhnya cukup moderat. Sementara lansia 65 tahun ke atas tidak memprihatinkan, lebih rendah. Namun kita akan mencoba melihat dari sisi kebijakan yang bisa kita tetapkan untuk menangani hal-hal seperti ini,” ucap Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas Maliki pada Webinar The Well-Being of Older People During the Covid-19 Pandemic in Indonesia, Rabu (7/10).

    Tingkat kesehatan mental lansia di Indonesia juga bergantung dengan siapa lansia tersebut tinggal. “Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota membuat terjadinya social distancing. Yang menarik ternyata untuk orang tua, social distancing itu bagian normal, di mana banyak orang tua yang tidak memiliki visitor, tidak ada pengharapan lain,” ujar Maliki. Sebanyak 12 persen lansia perempuan tinggal bersama pasangan, angka ini lebih rendah dibandingkan dengan 27 persen lansia laki-laki. Selain itu, 16,2 persen lansia perempuan tinggal sendiri jauh lebih tinggi dibandingkan lansia laki-laki sebanyak 5,7 persen. Kelompok tersebut mengkhawatirkan apabila dibanding kelompok yang tinggal bersama pasangan atau dengan anggota keluarga lainnya.  

    Dari hasil riset, 9,7 persen penduduk lansia yang tidak puas dengan hidupnya adalah mayoritas laki-laki. Angka tersebut sedikit meningkat dibandingkan sebelum pandemi. Sebaliknya, 27 persen lansia yang merasa bosan selama pandemi adalah mayoritas perempuan. Tingkat kebosanan tersebut berbeda tergantung dengan siapa para lansia tersebut tinggal. “Yang tinggal dengan anak-anak lebih banyak penurunan kebosanan dibandingkan dengan yang tinggal dengan pasangan,” imbuh beliau. Maliki mengatakan, perlu analisis lebih lanjut untuk membuat kebijakan yang tepat untuk kesehatan para lansia. Pengumpulan data yang tepat, serta dukungan komunitas dan teknologi yang mempererat komunikasi dengan keluarga diperlukan untuk meningkatkan kesehatan lansia.

    Selengkapnya
    Bappenas Paparkan Strategi Atasi Krisis Pangan dan Pertanian Akibat Covid-19

    Pangan dan pertanian merupakan sektor yang tidak luput terkena dampak pandemi Covid-19. Pada triwulan II 2020, sektor pertanian menyumbang 15,46 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional juga tercatat masih cukup rendah. Selain isu tersebut, sampah makanan juga menjadi salah satu dampak pandemi. setiap tahunnya, satu orang menghasilkan 300 kilogram sampah makanan setara 13 juta ton. “Penting bagi kita untuk melakukan aksi untuk mengurangi akibat negatif dari pandemi Covid-19,” ujar Kepala Subdirektorat Peternakan Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas Noor Avianto pada Webinar Reducing Food Loss and Waste During Covid-19, Selasa (29/9).

    Untuk mengatasi krisis pangan dan pertanian yang juga terjadi akibat perubahan iklim dan gejolak ekonomi global sebelum pandemi Covid-19, Kementerian PPN/Bappenas telah menyiapkan beberapa strategi. Pertama, meningkatkan penambahan nutrisi pangan. Kedua, meningkatkan ketersediaan bahan pangan dengan harga yang stabil dan keberlanjutan. Kedua strategi tersebut didukung dengan strategi ketiga, yaitu peningkatan sumber daya manusia untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kemudahan akses pasar. Keempat, peningkatan sumber daya alam di sektor pertanian. Strategi kelima adalah memperbaiki sistem pangan.

    Perbaikan sistem pangan ini sejalan dengan peningkatan produksi pangan domestik dan industri makanan lokal. Untuk itu, diperlukan stimulus ekonomi bagi pengusaha, baik penghasil makanan maupun petani untuk dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik. Akses pangan yang stabil juga diperlukan untuk menjamin distribusi merata ke semua lapisan masyarakat. “Bantuan pangan terhadap rumah tangga yang rentan juga penting. Pilar ini fokus untuk memberikan pangan yang memadai bagi semua orang. Bersamaan dengan hal itu, pilar ini diharapkan juga dapat mengurangi sampah makanan yang dihasilkan,” imbuh Noor.

    Berdasarkan asalnya, terdapat dua jenis sampah makanan. Sampah makanan yang berasal dari hasil produksi pertanian, perikanan, maupun peternakan, dan distribusi disebut food loss. Sedangkan sampah makanan yang dihasilkan dari konsumsi individu, memasak, dan makan disebut food waste. Untuk mengurangi food loss, diperlukan praktik pertanian dan distribusi yang baik. Saat ini, kehilangan bahan pangan banyak terjadi saat distribusi pengiriman barang. “Usaha mengurangi food loss dan food waste tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dengan insentif fiskal, tetapi memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, seperti komunitas dan sektor privat,” tandasnya.

    Selengkapnya
    Subsidi Upah dan Relaksasi Iuran Kepesertaan Jamsos Ketenagakerjaan untuk Kurangi Dampak Covid-19

    Pandemi Covid-19 di Indonesia mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat. Banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan menjadi salah satu faktor naiknya angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Dilihat dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), angka kemiskinan nasional dari September 2019 hingga Maret 2020 meningkat sekitar 1,63 juta penduduk miskin akibat pandemi ini. Dari survei yang dilakukan J-PAL Southeast Asia selama 10 minggu, per Maret hingga Juni 2020 dengan menggunakan metodologi Google Survei, jumlah pengangguran di tingkat kota dan kabupaten seluruh wilayah Indonesia adalah sebesar 67 persen. “Di tahun ini kita mengalami pelambatan ekonomi yang cukup parah. Hal ini menjadi tantangan bagi kita sebagai pemerintah untuk menanggulangi masalah yang diakibatkan pandemi Covid-19 ini,” ujar Direktur Perencanaan Kependudukan dan Perlindungan Sosial Kementerian PPN/Bappenas Muhammad Cholifihani dalam Webinar Program Subsidi Upah dan Relaksasi Iuran untuk Mengurangi Dampak Covid-19 dan Upaya Meningkatkan Kepesertaan Jamsos Ketenagakerjaan, Rabu (7/10).

    Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi, Kementerian PPN/Bappenas telah menerapkan berbagai strategi dan upaya melalui pemanfaatan APBN 2021. Nantinya dana tersebut akan dialokasikan ke berbagai sektor seperti industri, pariwisata, investasi, reformasi kesehatan, serta reformasi perlindungan sosial. “Dengan upaya dan strategi ini, kita berharap pada 2021 adalah kesempatan kita untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dan menekankan angka kemiskinan di kisaran 9,2-9,7 persen dan dibantu dengan dorongan relaksasi iuran dan subsidi upah, serta program-program yang kami lakukan. Harapannya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan,” pungkas Cholifihani.           

    Lebih lanjut, Cholifihani menjelaskan pemerintah sudah melakukan perluasan bantuan seperti rencana transformasi perlindungan sosial yaitu berupa bantuan sosial  dan jaminan sosial akan tetap dilaksanakan sampai dengan tahun 2024 dengan melakukan penyederhanaan tanpa mengurangi bantuan yang sudah ada sebelumnya. “Harapannya di dalam transformasi perlindungan sosial ini mereka yang rentan akan mendapatkan bantuan tambahan dan keuntungan yang lebih dari pemerintah seperti jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan,” ujar Cholifihani.

    Pemerintah juga telah membuat peta jalan dan strategi jaminan sosial untuk tahun 2021-2024. Di dalam peta jalan terdapat empat strategi yang akan didorong, seperti penguatan peraturan perundang-undangan jaminan sosial, pengembangan program jaminan sosial, penguatan kelembagaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dan penguatan monitoring, evaluasi, dan pengendalian SJSN. Strategi ini dibuat untuk mencegah kecurangan dalam program jaminan sosial serta memperkuat harmonisasi tugas dan kewenangan kelembagaan SJSN.

    Selengkapnya
    Bappenas Pastikan Capaian TPB/SDGs Indonesia On the Track di Tengah Pandemi Covid-19

    Berbagai respons kebijakan dirancang pemerintah sebagai upaya mitigasi Covid-19, termasuk mendorong capaian pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs). “Untuk 2021, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) masih fokus pada pemulihan ekonomi pasca Covid-19. Jadi beberapa yang dilakukan tentunya adalah bagaimana menggerakkan kembali sektor industri, investasi, pariwisata, dan ekspor agar dapat terus menyerap tenaga kerja dan menggerakkan berbagai sektor lainnya. Tentunya reformasi ini sudah direncanakan,” ungkap Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Vivi Yulaswati dalam diskusi Bincang Sore Migrant Care Covid-19 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia, Jumat (25/9).

    Sejumlah respons kebijakan pemerintah dan masyarakat untuk produktif dan aman dari Covid-19 demi pemulihan ekonomi di sektor tenaga kerja dan bisnis mulai membuahkan hasil. Pekerja terdampak pandemic yang pendapatannya menurun sudah berkurang 60 persen dan saat ini bisnis sudah mulai berjalan lagi. “Hal ini tentunya mengindikasikan bahwa pemerintah terus membangun dan juga memperkuat resiliensi kita untuk tidak hanya penanganan Covid-19 tapi juga pemulihan ekonomi. Beberapa pemahaman mengenai dampak Covid-19 itu sendiri masih terus berlangsung sehingga perlu pencermatan program-program dan juga strategi apa yang perlu dikurangi atau perlu di set-back kembali ke nol, ataupun juga program-program baru apa yang perlu dirancang untuk akselerasi ataupun juga direvisi. Saat ini kami masih sedang dalam proses,” jelas Vivi.

    Vivi mengungkapkan beberapa studi menunjukkan Covid-19 mempengaruhi capaian dari TPB/SDGs, tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga konteks sosial dan lingkungan. “Keterkaitan antar goal ini saat erat, kami dan tentunya banyak pihak termasuk dalam hal ini Migrant Care, saya apresiasi bahwa ada perhatian bagaimana kita mengawal dan juga memastikan upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk melakukan percepatan dan juga antisipasi terhadap pencapaian TPB/SDGs agar on the track,” jelas Staf Ahli Vivi.

    Vivi menambahkan usulan studi tersebut sudah sejalan dengan kebijakan yang tengah dijalankan pemerintah, antara lain revisi meta data, Rencana Aksi Daerah (RAD), roadmapdashboard TPB/SDGs, Satu Data, pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), reformasi sistem kesehatan nasional, serta sistem pelindungan nasional. “Untuk pilar sosial misalnya yang sebelumnya 77 indikator, pada edisi pertama sudah menjadi 81 indikator. Kemudian 65 indikator dari 81 indikator sudah sesuai dengan indikator nasional, which is masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, sementara sisanya masih menunggu pengayaan di tingkat global,” pungkas Vivi.

    Selengkapnya
    Menteri Suharso Perhatikan Pengelolaan SDM Indonesia untuk Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Masa Covid-19

    Untuk memastikan pembangunan berkelanjutan di masa pandemi Covid-19, pengelolaan SDM menjadi hal yang krusial agar dapat menjadi penggerak bagi generasi muda lainnya. “Ini adalah pertanyaan besar bagi generasi muda, apakah mereka hanya sebagai generasi enigma yang membuntut saja atau penggerak lokomotif. Perbanyaklah informasi, perbanyaklah hal yang harus kita kuasai sehingga certainty domain kita jauh lebih besar daripada uncertainty domain kita,” jelas Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam Webinar Pengelolaan SDM Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjutan di Masa Covid-19, Selasa (22/9).

    Menteri Suharso berpandangan bahwa generasi muda di Indonesia sebagian besar tidak dibiasakan untuk berpikir out of the box, dan sejak kecil sudah terkungkung di lingkungan yang terbatas. Berbeda dengan budaya di AS, saat di usia 18 tahun maka orang tua meminta anaknya untuk tidak tinggal di rumah, dan harus berusaha sendiri jika tidak dibiayai orang tuanya. “Culture ini yang kadang-kadang mengungkung kita. Ada primordial value yang kadang kala mesti kita atasi. Banyak hal secara cultural yang bisa kita adopt, tetapi ada juga yang harus kita saring demi kemajuan kita. Jadi akulturasi dengan nilai-nilai modern dan maju, tetapi jangan sampai kemudian kita kehilangan akar kita. Kita harus seperti orang Jepang, mereka tidak akan pernah kehilangan ke-Jepangan-nya itu. Ini yang kita perlukan. Jadi jangan sampai begitu kita sudah menjadi sesuatu, lalu hilang ke-Indonesiaan-nya,” ujar beliau.

    Menteri Suharso juga menggarisbawahi potensi SDM Papua. “Khusus generasi muda Indonesia di Papua, saya ingin mengatakan di sana juga banyak champion. Bahkan ada pemenang First Step to Nobel Prize in Physics pada 2004 dari Papua. Generasi ini ada, jadi bukan berarti Papua sangat tertinggal, saya kira tidak,” jelas Menteri Suharso. Namun hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah tidak sedikit generasi muda Papua yang setelah kembali dari tugas belajar tidak mendapatkan peluang dan tempat yang tepat.

    Melalui Desk Papua, Kementerian PPN/Bappenas sedang merumuskan cara agar generasi muda Papua dapat berkontribusi membangun Indonesia. “Mereka dapat membangun Sulawesi, Bali, ataupun Jawa karena semuanya itu adalah Indonesia. Bahkan juga dapat berkontribusi membangun di Ibu Kota Negara. Sepanjang generasi muda Papua bisa membuktikan dan membawa nama Indonesia dan dalam hal ini berkontribusi ke depan, itu sudah sangat membantu, sudah sangat memberikan kontribusi yang baik bagi bangsa,” pungkas Menteri Suharso.

    Selengkapnya
    Pentingnya Intervensi Perlindungan Anak dari Kerentanan di Masa Pandemi Covid-19

    Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda, dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas Woro Srihastuti Sulistyaningrum menjabarkan dampak pandemi Covid-19 terhadap anak-anak. Woro mengatakan, pendapatan orang tua yang menurun akibat Covid-19 juga meningkatkan risiko pada anak, seperti 1 juta anak usia 10-17 tahun berpotensi putus sekolah. “Bahkan, anak terpaksa bekerja karena orang tuanya tidak bisa bekerja selama pandemi,” tutur Woro dalam Webinar Covid-19 dan Anak-anak di Indonesia, Kamis (11/6).

    Kerentanan yang dialami anak-anak tidak hanya dari sisi ekonomi saja. Kondisi orang tua yang terpapar Covid-19 dan harus isolasi mandiri juga menyebabkan anak kehilangan pengasuhnya. Pandemi ini juga menyebabkan risiko anak meningkat menjadi 5 hingga 7 anak terpaksa bekerja. Tidak hanya itu, 400–500 ribu anak usia 10-17 tahun berisiko menikah dini karena orang tua tidak mampu membiayai kebutuhan selama pandemi. Risiko perundungan daring atau cyberbullying pun banyak dialami anak-anak, mengingat 43 persen orang tua belum melalukan perlindungan bagi anaknya.

    Pandemi Covid-19 juga menghambat pemenuhan hak kesehatan karena sebagian balita tidak mendapatkan imunisasi semasa pandemi ini akibat ketakutan orang tua untuk membawa anak ke layanan kesehatan. Kasus kekerasan, baik fisik maupun psikologis, juga meningkat akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Pasalnya, PSBB menyebabkan semua anak harus belajar di rumah, padahal tidak semua keluarga siap untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar di rumah.

    Untuk itu, Woro menegaskan pentingnya intervensi perlindungan anak di masa pandemi Covid-19, yaitu harus selalu mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang responsif terhadap keberagaman dan karakteristik wilayah anak. “Perlu evaluasi yang bisa menciptakan aturan yang lebih baik untuk anak, terlebih pada masa normal baru,” ucap Woro. Kebijakan yang diambil ini harus berdasarkan sumber kerentanan anak dan berbasis hak. Selain itu, kapasitas keluarga dan penguatan komunitas menjadi pilar yang fundamental.

    Upaya pengurangan kerentanan untuk mencegah dampak pandemi ke anak-anak, salah satunya melalui bantuan sosial untuk masyarakat yang terdampak. Pemerintah sendiri telah mempersiapkan beberapa bantuan sosial, di antaranya Kartu Sembako, subsidi listrik, bantuan sosial non Jabodetabek, Bantuan Langsung Tunai, Kartu Prakerja, dan Program Keluarga Harapan. “Untuk mengurangi dampak pandemi ke anak, perlu dipersiapkan penyediaan dan peningkatan efektivitas layanan supaya anak dapat lebih mudah memenuhi hak dan mendapat perlindungan,” tutup Woro.

    Selengkapnya
    Pemulihan Industri Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

    Sejalan dengan memprioritaskan kesehatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Indonesia juga melakukan upaya percepatan pemulihan sektor industri dengan membidik skenario pertumbuhan industri yang positif meski ekonomi sedikit melambat. “Mengacu rilis BPS, pada triwulan I perekonomian Indonesia tumbuh 3 persen. Bandingkan dengan negara lain, China -6,8 persen, Hongkong -8, dan Eropa turun cukup besar. Nah, yang turun relatif kecil, 60 persen atau lebih kecil dari biasanya adalah Indonesia dan Korea untuk triwulan I,” jelas Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Bambang Prijambodo dalam KSIxChange, Kamis (14/5).

    Industri secara keseluruhan masih tumbuh 2,1 persen, meskipun industri non migas tumbuh lebih rendah dibandingkan migas. Pada triwulan I, industri non migas melambat, tetapi belum terdampak luas. Lebih lanjut, Indonesia harus dapat mengantisipasi sektor manufaktur China yang terkena dampak luar biasa atau sebesar -9 persen pada triwulan I. Sektor-sektor yang akan mengalami perlambatan di antaranya tekstil, karet, barang logam, mesin, dan perlengkapan.

    Indonesia juga bersiap untuk skenario yang agak pesimistis, jika nantinya hanya akan mengalami kontraksi yang tidak besar, sekitar -1 atau bahkan kurang. Untuk pemulihan industri, perdagangan, dan investasi, pemerintah akan mendorong rehiring dan retraining tenaga kerja, pemulihan produktivitas, akselerasi industri substitusi impor, dan ekspor yang cukup kuat bertahan, serta realokasi belanja pemerintah dan BUMN untuk penanganan Covid-19, logistik dan operasional kawasan industri, industri kecil menengah, penerapan industri 4.0 dalam rangka memanfaatkan teknologi baik untuk produktivitas maupun sebagai antisipasi covid-19.

    Tahapan kebijakan penanganan Covid-19 ini dilakukan secara simultan. Tahapan yang sudah dilakukan adalah memprioritaskan masalah ketahanan kesehatan. Nantinya, di tahun depan, akan ada reformasi dari sistem kesehatan yang diperbaiki secara total. Kedua, di dalam proses reformasi kesehatan, pemerintah melindungi kelompok masyarakat miskin, rentan, dan dunia usaha dengan berbagai insentif. Ketiga, mengurangi tekanan yang ada di sektor keuangan. Terakhir adalah tanpa menunggu terlalu lama, akan dilakukan program pemulihan ekonomi.

    “Satu hal yang tidak kalah penting selain langkah-langkah yang diupayakan pemerintah selama proses ini, apabila nanti ditemukan anti virus Covid-19, di samping langkah memutus rantai penyebaran, ada langkah-langkah global dan Indonesia untuk mempercepat penemuan anti virus. Ini nanti yang akan menjamin proses pemulihan secara cepat. Selama proses itu, upaya yang kita lakukan adalah mengurangi atau memutus rantai penularan,” imbuhnya.

    Selengkapnya
    Peran Riset Pandemi Covid-19 dalam Pengambilan Kebijakan

    Direktur Pendidikan Tinggi, IPTEK dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Hadiat menjelaskan perlunya supply dan demand ketika merencanakan kebijakan publik dengan dukungan riset untuk menghasilkan pengetahuan. Hal tersebut disampaikan ketika mengisi Webinar Penyelarasan Riset Pandemi Covid-19 dalam Proses Pengambilan Kebijakan yang Berkelanjutan dan Inklusif, Selasa (30/6). Hadiat mengambil contoh ketika menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024, Kementerian PPN/Bappenas menggunakan pendekatan ekosistem pengetahuan dan inovasi.

    Pendekatan yang dimaksud adalah tematik, holistik, integratif, dan spasial. Perbaikan ekosistem pengetahuan dan inovasi diharapkan dapat meningkatkan efektivitas tata kelola regulasi dan kebijakan, mendorong partisipasi dan kolaborasi pemangku kepentingan, pemenuhan ketersediaan SDM yang berkualitas sebagai modal pembangunan, meningkatkan kapasitas inovasi, serta penguatan kapasitas merespons dinamika global dan nasional.

    Untuk menangani Covid-19 secara holistik, Kementerian PPN/Bappenas juga membentuk Gugus Tugas Covid-19 dengan melibatkan kementerian/lembaga dan pusat dengan daerah. Tugas gugus tugas Kementerian PPN/Bappenas ini adalah merumuskan kebijakan tanggap darurat dan merumuskan studi bersama yang digunakan untuk penyusunan kebijakan perencanaan dan penganggaran. Peran pemerintah daerah juga sangat diperlukan dalam arah menuju normal baru. Pemerintah daerah bertugas untuk menyiapkan protokol Covid-19 di zona-zona tertentu serta mendukung kelengkapan data untuk gugus tugas nasional. 

    Hadiat menambahkan bahwa perlu kebijakan yang responsif khususnya dalam menghadapi tantangan pandemi agar perekonomian Indonesia tetap kuat. Kebijakan yang diambil pemerintah harus berdasarkan pada bukti pengetahuan memadai dan kebijakan ekonomi tidak terlepas dari respons kebijakan kesehatan. Pengambilan kebijakan selama pandemi adalah kombinasi evidence based dan science based

    “Sebagai contoh bagaimana upaya kita di dalam merancang kebijakan Covid-19. Pertama proyeksi kasus dan kebutuhan penyediaan sarana kesehatan berbasis data untuk advokasi. Kedua, rancangan skenario kebutuhan peningkatan kapasitas uji Covid-19. Ketiga, pengembangan desain reformasi sistem kesehatan nasional,” jelas Hadiat. Pandemi Covid-19 juga memberi pembelajaran terkait sosial budaya. Perubahan yang terjadi ada yang permanen dan temporer. Tantangannya adalah bagaimana melembagakan dampak positif Covid-19, seperti rajin cuci tangan pakai sabun dan air mengalir.

    “Pentingnya ekosistem pengetahuan dan inovasi supaya bisa memastikan bahwa kebijakan yang ditetapkan memang evidence based dan science based. Tentunya memerlukan upaya bersama terkait dengan mendukung penetapan kebijakan tersebut. Mulai dari tata kelola, tenaga, regulasi menjadi elemen penting bagaimana sebuah penelitian dapat mempengaruhi kebijakan. Harus ada kapasitas untuk komunikasi pengetahuan dan inovasi ini,” pungkasnya.

    Selengkapnya
    Atasi Kontraksi Pertumbuhan Ekonomi Akibat Covid-19, Menteri Suharso Bahas Jaring Pengaman Sosial, Stunting, Hingga IKN

    Kementerian PPN/Bappenas optimistis kontraksi pertumbuhan ekonomi tahun ini akibat pandemi Covid-19 dapat diatasi dengan maksimal. Pemerintah tidak hanya menjaga masyarakat dari paparan virus, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi sehingga dampak negatif yang ditimbulkan bisa dikendalikan. Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan Covid-19 ini membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang belum pernah dipikirkan sebelumnya, dengan tidak mengorbankan baik dari aspek kesehatan masyarakat maupun pertumbuhan ekonomi. “Covid-19 ini memerlukan unprecedented policy, yakni kebijakan yang menggabungkan upaya untuk membatasi penyebaran virus dan dalam waktu yang bersamaan mendorong ekonomi agar tetap berjalan,” ujar Menteri Suharso, Minggu (10/5).

    Kementerian PPN/Bappenas memprediksi kontraksi pertumbuhan ekonomi mulai terasa pada Triwulan-II 2020. Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Triwulan-I sebesar 2,97 persen. “Pada Triwulan-II angkanya akan jatuh terkontraksi, tetapi akan naik pada Triwulan-III,” imbuh beliau. Kementerian PPN/Bappenas sendiri memproyeksikan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 0,3-0,5 persen. Hal ini menyebabkan penerimaan negara pun ikut menurun. Penurunan pendapatan negara ini diperkirakan juga akan menyebabkan defisit belanja negara yang lebih besar.

    Sebagai salah satu langkah strategis, pemerintah telah menyiapkan Jaring Pengaman Sosial untuk menanggulangi turunnya produktivitas akibat Covid-19. Strategi tersebut sekaligus untuk menjaga agar kesenjangan antar kelompok tidak semakin besar karena banyaknya penduduk rentan miskin atau pekerja sektor informal yang kesulitan akibat pendapatan hariannya berkurang selama Covid-19. “Data BPS mengatakan jumlah orang miskin di Indonesia 9,22 persen pada 2018. Kementerian PPN/Bappenas memprediksikan pada 2020 jumlah penduduk miskin sebanyak 8,9 persen, namun dengan adanya Covid-19, prediksi kita berubah menjadi mendekati 10 persen kembali,” tutur Menteri Suharso. Artinya, penduduk miskin pada tahun ini bertambah sebanyak 2 juta jiwa.

    Pemutusan Hak Kerja menjadi salah satu alasan meningkatnya penduduk miskin dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Diprediksi, TPT meningkat menjadi 7,8 persen atau 3,7 juta jiwa, di mana sebelumnya hanya terdapat 2 juta jiwa yang pengangguran. Selama pandemi berlangsung, pemerintah telah mempersiapkan bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak. “Terdapat dua macam bantuan sosial. Pertama, bersifat permanen, sudah ada sebelum Covid-19. Kedua, bersifat sementara, yang baru dianggarkan setelah adanya Covid-19,” ujar Menteri Suharso.

    Bantuan yang sudah disiapkan sebelumnya, di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH) yang menyasar 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan Kartu Sembako yang sebelumnya menyasar 15,2 juta KPM, namun kini diperluas menjadi 20 juta KPM. Sementara itu, bantuan sementara adalah paket sembako dan bantuan langsung tunai sebesar 600 ribu rupiah selama 3 bulan untuk 9 juta kepala keluarga di luar Jakarta dan 1,3 juta kepala keluarga untuk keluarga di Jakarta dan sekitarnya. Tidak hanya itu, pemerintah juga telah memberikan keringanan pembayaran listrik bagi pengguna bersubsidi. “Namun, kalau Covid-19 ini masih belum selesai sampai Juli, bantuan ini akan ditambahkan. Kalau wabah ini tidak ada tanda-tanda melandai, kita harus menambah bantuan pada Juli–September,” kata Menteri Suharso.  

    Pelandaian kurva Covid-19 sendiri berbeda-beda di tiap daerah. Menteri Suharso mengatakan beberapa daerah mulai menunjukkan tanda-tanda kurva yang melandai, seperti Jakarta, Banten, dan Jawa Tengah. Di sisi lain, jumlah kasus Covid-19 di Jawa Barat dan Jawa Timur tercatat meningkat. Untuk itu, disiplin dan konsistensi physical distancing dan jaga jarak sangat diperlukan, baik di wilayah yang masih meningkat jumlah kasus positif Covid-19 maupun daerah yang kurvanya mulai melandai, terlebih di daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

    Meski penanganan kesehatan saat ini fokus untuk menyelesaikan Covid-19, Menteri Suharso mengatakan, isu kesehatan lainnya tidak akan dikesampingkan dan tetap menjadi agenda yang akan diselesaikan pada 2020, mengingat masih terdapat penyakit lain yang melanda beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya program prioritas adalah penanganan stunting (kekerdilan) yang terus dijalankan dan tetap dianggarkan semasa pandemi. Selain stunting, Tuberkulosis atau TBC dan kusta juga menjadi perhatian pemerintah. “Indonesia adalah negara nomor tiga di dunia yang menderita TBC dan kusta. Saat ini terdapat  843 ribu penduduk Indonesia yang menderita TBC,” imbuh Menteri Suharso.

    Isu kesehatan yang juga harus diselesaikan adalah malaria, imunisasi dasar lengkap bagi semua balita, serta angka kematian ibu yang masih cukup tinggi. Untuk itu, Menteri Suharso menjadikan Covid-19 ini sebagai pembelajaran untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dengan tidak hanya memperbanyak alat kesehatan, tetapi juga mempermudah produksi obat generik dan memperbanyak produksi vaksin dalam negeri.

    Beberapa program lain pun masih berjalan semasa pandemi, termasuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) dan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang saat ini masih berada dalam tahap pra masterplan. Kementerian PPN/Bappenas tetap mempersiapkan kebutuhan pembangunan IKN, meski pelaksanaan pembangunan tersebut masih belum ditentukan. Pembangunan IKN diharapkan dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi pasca pandemi. Diharapkan program ini bisa menarik investor, membuka lapangan kerja, dan bisnis baru setelah pandemi Covid-19 usai.

     “Kita hanya mempersiapkan kendaraan saja. Hanya dari pra masterplan hingga masterplan. Kapan mulai peletakan batu pertama, itu belum dipastikan,” pungkas Menteri Suharso.

    Selengkapnya