Bappenas Paparkan Strategi Atasi Krisis Pangan dan Pertanian Akibat Covid-19

Pangan dan pertanian merupakan sektor yang tidak luput terkena dampak pandemi Covid-19. Pada triwulan II 2020, sektor pertanian menyumbang 15,46 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional juga tercatat masih cukup rendah. Selain isu tersebut, sampah makanan juga menjadi salah satu dampak pandemi. setiap tahunnya, satu orang menghasilkan 300 kilogram sampah makanan setara 13 juta ton. “Penting bagi kita untuk melakukan aksi untuk mengurangi akibat negatif dari pandemi Covid-19,” ujar Kepala Subdirektorat Peternakan Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas Noor Avianto pada Webinar Reducing Food Loss and Waste During Covid-19, Selasa (29/9).

Untuk mengatasi krisis pangan dan pertanian yang juga terjadi akibat perubahan iklim dan gejolak ekonomi global sebelum pandemi Covid-19, Kementerian PPN/Bappenas telah menyiapkan beberapa strategi. Pertama, meningkatkan penambahan nutrisi pangan. Kedua, meningkatkan ketersediaan bahan pangan dengan harga yang stabil dan keberlanjutan. Kedua strategi tersebut didukung dengan strategi ketiga, yaitu peningkatan sumber daya manusia untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kemudahan akses pasar. Keempat, peningkatan sumber daya alam di sektor pertanian. Strategi kelima adalah memperbaiki sistem pangan.

Perbaikan sistem pangan ini sejalan dengan peningkatan produksi pangan domestik dan industri makanan lokal. Untuk itu, diperlukan stimulus ekonomi bagi pengusaha, baik penghasil makanan maupun petani untuk dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik. Akses pangan yang stabil juga diperlukan untuk menjamin distribusi merata ke semua lapisan masyarakat. “Bantuan pangan terhadap rumah tangga yang rentan juga penting. Pilar ini fokus untuk memberikan pangan yang memadai bagi semua orang. Bersamaan dengan hal itu, pilar ini diharapkan juga dapat mengurangi sampah makanan yang dihasilkan,” imbuh Noor.

Berdasarkan asalnya, terdapat dua jenis sampah makanan. Sampah makanan yang berasal dari hasil produksi pertanian, perikanan, maupun peternakan, dan distribusi disebut food loss. Sedangkan sampah makanan yang dihasilkan dari konsumsi individu, memasak, dan makan disebut food waste. Untuk mengurangi food loss, diperlukan praktik pertanian dan distribusi yang baik. Saat ini, kehilangan bahan pangan banyak terjadi saat distribusi pengiriman barang. “Usaha mengurangi food loss dan food waste tidak hanya dilakukan oleh pemerintah dengan insentif fiskal, tetapi memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, seperti komunitas dan sektor privat,” tandasnya.


Komentar (2)

  • Raiyan Alya Ismed

    Seharusnya jika terjadi krisis pangan, kita harus lebih memperhatikan para petani di Indonesia saat ini. Ya, Pemerintah melalui Kementrian Pertanian tengah berupaya memberikan bantuan kepada para petani dalam bentuk alat dan mesin (alsintan), pupuk juga bibit bersubsidi dan sejumlah bantuan lain-lain. Seperti sekarang, sudah ada Kartu Tani untuk Petani bisa mengakses pupuk bersubsidi. Nahhh,, dengan itu kita harapkan dpat meningkatkan produktivitas hasil pertanian yang mendorong terwujudnya swasembada pangan memenuhi kebutuhan pangan nasional. Adapun bantuan BLT dari Pemerintah kepada para Petani, sehingga ada artikel yang menyatakan Petani dan Buruh mendominasi penerima BLT desa di tahun 2021. Tetapi,,,, pada kenyataannnya sebagian bantuan dari pemerintah belum menyentuh petani kecil, jadii,,,, masyarakat miskin petani sebenarnya belum merasakan langsung sejumlah bantuan yang diberikan oleh pemerintah, sumbangan-sumbangan tersebut hanya berhenti pada orang-orang yang memiliki jaringan/koneksi dan kepentingan dengan pemerintah. Petani kerap kali dianggap sebagai pekerjaan yang rendah dan dipandang sebelah mata. Jika tidak ada petani, maka tidak akan ada bahan pangan, Jika kita tidak menyediakan lahan sawah atau tidak ada yang Bertani lagi, Petani merupakan pekerjaan yang mulia, mereka bekerja menggarap sawah, menanam sayur-sayuran, buah-buahan, gandum, dan lain-lain, dan bukan untuk mereka sendiri, namun untuk semua perut manusia . jika tidak ada petani, dari mana kita memperoleh beras? Dari mana kita memperoleh sayur”an, gandum, buah dan lainnya. Jika tidak ada petani, apakah kita masih bisa berdiri? Tentunya tidak bukannn. Kita dapat hadir hari ini tentunya tubuh kita memerlukan asupan dan nutrisi yang cukup bukan? Makan dari itu, jangan meremehkan pekerjaan petani itu, jadi petani itu hal yang luar biasa, angkalah derajat petani itu agar tidak dipandang sebelah mata. Saat ini mengalihfungsikan lahan pertanian ke lahan pertambangan batu bara dan emas marak terjadi. serta meluasnya kebun kelapa sawit juga menyebabkan krisis pangan di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar, tapi mengapa masih saja mengimpor beras, jagung dan kedelai?? Luas perkebunan sawit sebesar 16 juta Hektar, semestara luas lahan bku sawah hanya 7,4 juta Hektar. Permasalahan ini merupakan Bom Waktu yang besar nantinya, jika terus menerus dibiarkan, bisa membuat lahan untuk menanam sawah/ gandum hanya tinggal Nama. Nahhh di tahun yang akan datang, tahun 2030, tahun 2050, jika tidak ada lagi lahan pertanian, kita mau makan apa??Batu bara, emas, biji sawit???

    29 Mei 2022 18:56
  • Raiyan Alya Ismed

    Seharusnya jika terjadi krisis pangan, kita harus lebih memperhatikan para petani di Indonesia saat ini. Ya, Pemerintah melalui Kementrian Pertanian tengah berupaya memberikan bantuan kepada para petani dalam bentuk alat dan mesin (alsintan), pupuk juga bibit bersubsidi dan sejumlah bantuan lain-lain. Seperti sekarang, sudah ada Kartu Tani untuk Petani bisa mengakses pupuk bersubsidi. Nahhh,, dengan itu kita harapkan dpat meningkatkan produktivitas hasil pertanian yang mendorong terwujudnya swasembada pangan memenuhi kebutuhan pangan nasional. Adapun bantuan BLT dari Pemerintah kepada para Petani, sehingga ada artikel yang menyatakan Petani dan Buruh mendominasi penerima BLT desa di tahun 2021. Tetapi,,,, pada kenyataannnya sebagian bantuan dari pemerintah belum menyentuh petani kecil, jadii,,,, masyarakat miskin petani sebenarnya belum merasakan langsung sejumlah bantuan yang diberikan oleh pemerintah, sumbangan-sumbangan tersebut hanya berhenti pada orang-orang yang memiliki jaringan/koneksi dan kepentingan dengan pemerintah. Petani kerap kali dianggap sebagai pekerjaan yang rendah dan dipandang sebelah mata. Jika tidak ada petani, maka tidak akan ada bahan pangan, Jika kita tidak menyediakan lahan sawah atau tidak ada yang Bertani lagi, Petani merupakan pekerjaan yang mulia, mereka bekerja menggarap sawah, menanam sayur-sayuran, buah-buahan, gandum, dan lain-lain, dan bukan untuk mereka sendiri, namun untuk semua perut manusia . jika tidak ada petani, dari mana kita memperoleh beras? Dari mana kita memperoleh sayur”an, gandum, buah dan lainnya. Jika tidak ada petani, apakah kita masih bisa berdiri? Tentunya tidak bukannn. Kita dapat hadir hari ini tentunya tubuh kita memerlukan asupan dan nutrisi yang cukup bukan? Makan dari itu, jangan meremehkan pekerjaan petani itu, jadi petani itu hal yang luar biasa, angkalah derajat petani itu agar tidak dipandang sebelah mata. Saat ini mengalihfungsikan lahan pertanian ke lahan pertambangan batu bara dan emas marak terjadi. serta meluasnya kebun kelapa sawit juga menyebabkan krisis pangan di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar, tapi mengapa masih saja mengimpor beras, jagung dan kedelai?? Luas perkebunan sawit sebesar 16 juta Hektar, semestara luas lahan bku sawah hanya 7,4 juta Hektar. Permasalahan ini merupakan Bom Waktu yang besar nantinya, jika terus menerus dibiarkan, bisa membuat lahan untuk menanam sawah/ gandum hanya tinggal Nama. Nahhh di tahun yang akan datang, tahun 2030, tahun 2050, jika tidak ada lagi lahan pertanian, kita mau makan apa??Batu bara, emas, biji sawit???

    29 Mei 2022 18:56

Tinggalkan Komentar