Kajian Pengembangan Industri Budaya Dan Olahraga Dalam Mendukung Pembangunan Pariwisata

Kajian ini bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan sebagai masukan bagi perencanaan yang dapat:

(1) mendorong pengembangan industri budaya dan industri olah raga dalam mendukung peningkatan kinerja pariwisata;

(2) mendorong terciptanya pola kerja sama sinergis antara industri budaya dan industri olah raga dalam mendukung pembangunan pariwisata. Untuk memetakan pola hubungan antara industri budaya, olahraga dan pariwisata, kajian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, studi kasus, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah. Adapun analisa data dilakukan dengan metode analisa kualitatif deskriptif terhadap data primer dan sekunder. Tinjauan kebijakan dilakukan melalui analisis isi (content analysis).

Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010

Rencana Aksi ini disusun sebagai panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, baik bagi institusi dan aparatur pemerintah, masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia. Sebagai tindak lanjut, dokumen ini perlu diterjemahkan ke dalam rencana aksi pangan dan gizi di setiap wilayah. Agar langkah-langkah yang telah dirumuskan ini tidak menjadi sebuah dokumen saja, maka rumusan rencana aksi pangan dan gizi perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata dalam pembangunan pangan dan gizi di setiap propinsi dan kabupaten/kota.  Selanjutnya perlu dilakukan koordinasi, monitoring dan evaluasi secara periodik agar pelaksanaan rencana aksi dapat betul-betul diterapkan dan mencapai tujuan serta dapat membawa kemajuankemajuan yang dicapai.

 

Kajian Cepat PKPS-BBM Bidang Pendidikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 2005

Pada Maret dan Oktober 2005, Pemerintah Indonesia mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan merealokasikan sebagian dananya untuk program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang mulai dilaksanakan pada Juli 2005. Program yang diberikan untuk sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP ini dimaksudkan untuk mengurangi beban masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam membiayai pendidikan setelah harga BBM meningkat. Berbeda dengan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM (PKPS-BBM) bidang Pendidikan sebelumnya yang diberikan dalam bentuk beasiswa (Bantuan Khusus Murid – BKM) kepada siswa yang dianggap miskin, BOS diberikan kepada sekolah. Dana BOS dialokasikan berdasarkan jumlah murid, dengan perhitungan Rp235.000 per murid per tahun untuk tingkat SD dan Rp324.500 per murid per tahun untuk tingkat SMP. Alokasi APBN untuk dana BOS periode Juli–Desember 2005 sebesar 5,136 trilyun rupiah, yaitu meningkat sekitar delapan kali lipat dibanding anggaran BKM untuk SD dan SMP periode Januari-Juni 2005.

Laporan Akhir Hasil Asesmen Cepat Program PKPS-BBM 2005 Bidang Kesehatan

Dengan penurunan subsidi harga BBM berupa kenaikan harga pada bulan Maret (rata-rata 60%) dan Oktober (rata-rata 108%) di tahun 2005, pemerintah memperoleh dana yang dialokasikan untuk empat program utama bagi penduduk miskin dan tidak mampu; yakni di sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur desa dan bantuan langsung tunai. Tujuan ke-empat program tersebut dalam jangka pendek adalah untuk mengurangi dampak kenaikan harga BBM, dan dalam jangka panjang untuk menanggulangi kemiskinan.

Laporan Akhir: Studi Evaluasi Pelaksanaan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM

Studi ini bertujuan untuk mengkaji tingkat efektifitas dan manfaat program PKPS BBM IP, mencakup; (a) pelaksanaan program secara keseluruhan, (b) sasaran/seleksi proyek, (c) hasil lapangan, (d) dampak jangka pendek, (e) aliran/penyimpangan penggunaan dana dan (f) tatalaksana program. Ada tiga aspek yang distudi, yaitu aspek teknik, aspek keuangan dan aspek sosial.

UNDUH DOKUMEN

1. Studi Evaluasi Pelaksanaan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM (application/pdf

Kawasan Perbatasan: Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Kawasan Perbatasan Antarnegara di Indonesia

Kawasan perbatasan antarnegara di Indonesia hingga saat ini masih merupakan kawasan yang tertinggal dan terisolir. Kebijakan pembangunan di masa lampau yang bersifat sentralistik dan lebih menekankan kepada aspek keamanan, telah menyebabkan rendahnya intensitas pembangunan di kawasan perbatasan antarnegara ini. Ketertinggalan ini didorong pula oleh suatu paradigma dalam pengelolaan kawasan perbatasan antarnegara saat itu, dimana kawasan perbatasan antarnegara ini masih dianggap sebagai ‘halaman belakang’ wilayah NKRI.


UNDUH DOKUMEN

1. Cover .. (application/msword)
2. Kata Pengantar .. (application/msword)
3. Daftar Penyusun .. (application/msword)
4. Daftar Isi .. (application/msword)
5. Daftar Lampiran .. (application/msword)
6. Ucapan Terima Kasih .. (application/msword)

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil

Kawasan pulau-pulau kecil memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang tinggi dan dapat dijadikan sebagai modal dasar pelaksanaan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. Kawasan ini menyediakan sumberdaya alam yang produktif seperti terumbu karang, padang lamun (seagrass), hutan mangrove, perikanan dan kawasan konservasi. Pulau-pulau kecil juga memberikan jasa lingkungan yang besar karena keindahan alam yang dimilikinya yang dapat menggerakkan industri pariwisata bahari. Dilain pihak, pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil masih belum optimal akibat perhatian dan kebijakan Pemerintah selama ini yang lebih berorientasi ke darat.

UNDUH DOKUMEN

1. Cover .. (application/msword)
2. Kata Pengantar dan Daftar Isi .. (application/msword)
3. Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil .. (application/msword)
4. Matriks Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Pulau-pulau Kecil .. (application/msword)
5. Ucapan Terima Kasih .. (application/msword)