Laporan Perkembangan Ekonomi Makro Bulan Februari 2020

Ringkasan:

Pandemi Coronavirus (Covid-19) masih menjadi isu utama dunia dan menyebabkan kepanikan global. Pergerakan pasar keuangan dan harga komoditas saat ini sangat bergantung pada perkembangan Covid-19. Jumlah kasus terinfeksi Covid-19 di Tiongkok sudah mencapai fase puncaknya pada bulan ini dan pertambahan kasus baru berangsur menurun. Di saat yang bersamaan, virus mulai menyebar ke berbagai negara lain. Hingga 29 Februari 2020, terdapat sekitar 6.800 kasus positif Covid-19 di 56 negara. Salah satu negara dengan kasus paling tinggi adalah Korea Selatan. Seiring dengan terjadinya penambahan ratusan kasus di negara tersebut dalam waktu yang sangat singkat, pemerintah setempat memberikan peringatan hingga level tertinggi dan melarang membuat keramaian. Hal serupa terjadi di Italia yang memberikan peringatan wabah Covid-19, menghentikan berbagai pertandingan olahraga, dan melakukan isolasi ketat di 10 kota yang dinilai menjadi lokasi penyebaran.

Kilas Balik Perekonomian Indonesia 2019 dan Outlook Perekonomian Indonesia 2020: Bertahan di Tengah Ketidakpastian Global

Perlambatan terjadi hampir di semua negara dunia. Perlambatan aktivitas ekonomi global mendorong perlambatan harga komoditas global dan mendorong pelonggaran moneter. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 melambat, tapi masih cukup tinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Perekonomian Sumatera tahun 2019 meningkat didorong oleh membaiknya kinerja perekonomian Riau dan Kep. Riau. Riau dan Kep. Riau dapat tumbuh tinggi didorong oleh pertumbuhan Industri Pengolahan sejalan dengan peningkatan harga kelapa sawit dan karet. Perekonomian Jabar, DKI Jakarta, Banten dan Bali melambat, menyebabkan perekonomian Jawa-Bali secara keseluruhan tertahan. Perekonomian Kalimantan meningkat didorong oleh kinerja perekonomian Kaltim, Kaltara, dan Kalteng. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi stagnan pada level 6,7%. Perekonomian Nusa Tenggara mengalami pertumbuhan didorong oleh meningkatnya konsumsi Rumah tangga dan Investasi di Provinsi NTT dan NTB dan juga didorong oleh peningkatan aktivitas pariwisata khususnya wisman di NTB dan peningkatan produksi tembaga seiring dengan pertumbuhan pertambangan yang mulai terkoreksi baik di NTB maupun di NTT. Perekonomian Maluku tahun 2019 mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi utamanya disebabkan oleh melambatnya kinerja sektor pertambangan dan industri pengolahan terjadi penurunan kinerja ekspor dan investasi. Pertumbuhan ekonomi di Papua mengalami penurunan utamanya disebabkan oleh melemahnya sektor pertambangan seiring dengan transisi metode pertambangan di Freeport. Namun, perkembangan ekonomi di Papua di luar pertambangan masih cukup baik. 

Pada Januari 2020, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan meningkat. Namun dalam waktu kurang dari dua bulan IMF merevisi pertumbuhan ke bawah, bahkan diperkirakan bisa di bawah pertumbuhan 2019. Lembaga riset internasional memperkirakan penurunan lebih besar jika Covid-19 menjadi pandemik global. Dampak Covid-19 yang dialami Indonesia terhadap pertumbuhan ekonomi mengakibatkan investasi akan melambat, konsumsi RT mengalami penurunan sebagai akibat pembatasan perjalanan dan pergerakan masyarakat, kinerja ekspor impor terkena dampak penurunan aktivitas perdagangan dunia dan pelemahan ekonomi domestik, dan skenario optimis mengasumsikan tambahan stimulus fiskal sehingga mendorong peningkatan konsumsi pemerintah ada dan skenario pesimis,dorongan APBN terbatas.

Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan IV Tahun 2019

Publikasi triwulan IV tahun 2019 ini memberikan gambaran dan analisis mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia hingga triwulan IV tahun 2019. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan IV tahun 2019 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, investasi dan kerja sama internasional, industri dalam negeri, perekonomian daerah, serta proyeksi ekonomi kedepan.

Laporan Perkembangan Ekonomi Makro Bulan Agustus 2019

Ringkasan:

Bank sentral Amerika memutuskan untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 bps pada akhir Juli 2019. Pemangkasan yang tidak begitu agresif dan isyarat tidak ada penurunan suku bunga dalam waktu dekat meleset dari perkiraan pasar The Fed akan memangkas suku bunga secara agresif. Pemangkasan suku bunga oleh The Fed kemudian diikuti dengan penurunan suku bunga oleh beberapa negara, termasuk Indonesia. Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 bps.

Sementara itu, tensi perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok semakin tinggi sepanjang bulan Agustus 2019. Kedua negara saling berbalas menaikkan tarif impor bagi satu sama lain. Di sisi lain, mata uang Yuan melemah yang ditanggapi Amerika sebagai kesengajaan agar produk Tiongkok terlihat lebih murah. Hal tersebut memperparah ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Laporan Perkembangan Ekonomi Makro Bulan Juli 2019

Ringkasan:

Perundingan dagang yang dilakukan antara Amerika Serikat dan Tiongkok belum menemukan titik tengah. Perundingan masih terus diagendakan, membuat pelaku pasar menunggu dalam ketidakpastian. Sikap Amerika yang mudah berubah membuat pelaku pasar sulit menebak arah kebijakannya. Namun, investor masih optimis akan hasil perundingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti keputusan pemotongan suku bunga oleh The Fed pada akhir bulan Juli.

Ketidakpastian yang terus berlanjut membawa posisi Dolar Amerika tertekan sepanjang bulan Juli 2019. Hal tersebut ditunjukkan oleh penguatan sebagian besar mata uang Asia terhadap Dolar Amerika. Rupiah bahkan menguat hingga Rp13.913/USD pada kurs tengah BI. Penguatan Rupiah tidak hanya didorong oleh faktor eksternal. Dari kondisi domestik, keputusan Bank Indonesia memotong suku bunga sebanyak 25 bps semakin memperkuat nilai tukar Rupiah. Selain itu, kondisi politik yang mulai kondusif juga memperkuat posisi Rupiah.

Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan II Tahun 2019

Publikasi ini memberikan gambaran dan analisa mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia hingga triwulan II tahun 2019. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II tahun 2019 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, investasi dan kerja sama internasional, industri dalam negeri, perekonomian daerah, serta neraca pembayaran.

Laporan Perkembangan Ekonomi Makro Bulan Juni 2019

Ringkasan:

Meningkatnya probabilitas pemangkasan suku bunga oleh The Fed hingga pertengahan bulan Juni 2019 direspon sebagian besar negara dengan menurunkan suku bunga acuannya. Malaysia dan Filipina telah menurunkan suku bunga pada bulan Mei sedangkan Australia dan India memangkas suku bunga pada bulan Juni masing-masing sebesar 25 bps. Beberapa stakeholder di Indonesia mendesak Bank Indonesia melakukan hal yang sama untuk mendorong ekspansi dunia usaha. Pada tanggal 17 Juni 2019, The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga.

Berdasarkan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada bulan Juni 2019, Bank Indonesia berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM). Dengan mempertimbangkan perkembangan pasar keuangan global dan neraca pembayaran, serta sejalan dengan rendahnya inflasi, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga pada tingkat 6 persen dan menurunkan GWM sebesar 50 bps. Hal ini dilakukan untuk menambah likuiditas di pasar uang.

Laporan Perkembangan Ekonomi Makro Bulan Mei 2019

Ringkasan:

Perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok kembali terekskalasi. Amerika Serikat menaikkan bea impor atas barang dari Tiongkok sebesar 25 persen, sementara Tiongkok membalas dengan menaikkan bea impor barang dari Amerika Serikat sebesar USD60 miliar per 1 Juni. Akibatnya, harga minyak jatuh semakin dalam didorong oleh kekhawatiran akan terjadinya penurunan permintaan terkait perang dagang yang kembali dimulai.

Harga minyak mentah dunia menunjukkan pelemahan sepanjang bulan Mei 2019. Harga minyak mentah WTI turun 16,28 persen menjadi USD53,5/barel sementara Brent turun 11,4 persen sebesar USD69,38/barel. Anjloknya harga minyak mentah selain disebabkan oleh perang dagang juga diperparah oleh lonjakan stok minyak mentah Amerika Serikat. Jatuhnya harga minyak tertahan oleh potensi berkurangnya pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan I Tahun 2019

Publikasi triwulan I tahun 2019 ini memberikan gambaran dan analisa mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia hingga triwulan I tahun 2019. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I tahun 2019 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, investasi dan kerja sama internasional, industri dalam negeri, serta perekonomian daerah.

Infografik Perdagangan Luar Negeri Tahun 2019

Pada Infografik Perkembangan Perdagangan Luar Negeri 2019 ini mencakup: Total Ekspor, Ekspor Migas dan Non Migas, Total Impor, Impor Migas dan Non Migas, Neraca Perdagangan, Top 5 Negara Tujuan Ekspor Non Migas, Top 5 Komoditas Ekspor Non Migas, Top 5 Negara Asal Impor Non Migas, Top 5 Komoditas Impor Non Migas.